Jumat, 04 Februari 2011

Wahai saudariku muslimah..

Posted by ukhti nita 21.07, under | No comments

Berhati-hatilah dari terlalu banyak berceloteh dan terlalu banyak berbicara,Allah Ta'ala berfirman:

” لا خير في كثير من نجواهم إلا من أمر بصدقة أو معروف أو إصلاح بين الناس ” (النساء: الآية 114).

Artinya:

"Dan tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka,kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah,atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia ". (An nisa:114)



Dan ketahuilah wahai saudariku,semoga Allah ta'ala merahmatimu dan menunjukimu kepada jalan kebaikan, bahwa disana ada yang senantiasa mengamati dan mencatat perkataanmu.

"عن اليمين وعن الشمال قعيد. ما يلفظ من قولٍ إلا لديه رقيب عتيد ” (ق: الآية 17-18)

Artinya:

"Seorang duduk disebelah kanan,dan yang lain duduk disebelah kiri.tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir" (Qaaf:17-18).

Maka jadikanlah ucapanmu itu menjadi perkataan yang ringkas, jelas, yang tidak bertele-tele yang dengannya akan memperpanjang pembicaraan.

1) Bacalah Al qur'an karim dan bersemangatlah untuk menjadikan itu sebagai wirid keseharianmu, dan senantiasalah berusaha untuk menghafalkannya sesuai kesanggupanmu agar engkau bisa mendapatkan pahala yang besar dihari kiamat nanti.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما- عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” يقال لصاحب القرآن: اقرأ وارتق ورتّل كما كنت ترتّل في الدنيا فإن منزلتك عند آخر آية تقرؤها رواه أبو داود والترمذي

Dari abdullah bin ‘umar radiyallohu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, beliau bersabda:

dikatakan pada orang yang senang membaca alqur’an: bacalah dengan tartil sebagaimana engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.

HR.abu daud dan attirmidzi

2) Tidaklah terpuji jika engkau selalu menyampaikan setiap apa yang engkau dengarkan,karena kebiasaan ini akan menjatuhkan dirimu kedalam kedustaan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” كفى بالمرء كذباً أن يتحدّث بكل ما سمع “

Dari Abu hurairah radiallahu 'anhu,sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang dia dengarkan."

(HR.Muslim dan Abu Dawud)

3) jauhilah dari sikap menyombongkan diri (berhias diri) dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu,dengan tujuan membanggakan diri dihadapan manusia.

عن عائشة – رضي الله عنها- أن امرأة قالت: يا رسول الله، أقول إن زوجي أعطاني ما لم يعطني؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” المتشبّع بما لم يُعط كلابس ثوبي زور “.

Dari aisyah radiyallohu ‘anha, ada seorang wanita yang mengatakan:wahai Rasulullah,aku mengatakan bahwa suamiku memberikan sesuatu kepadaku yang sebenarnya tidak diberikannya.berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,: orang yang merasa memiliki sesuatu yang ia tidak diberi,seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan." (muttafaq alaihi)

4) Sesungguhnya dzikrullah memberikan pengaruh yang kuat didalam kehidupan ruh seorang muslim,kejiwaannya, jasmaninya dan kehidupan masyarakatnya. maka bersemangatlah wahai saudariku muslimah untuk senantiasa berdzikir kepada Allah ta'ala,disetiap waktu dan keadaanmu.Allah ta'ala memuji hamba-hambanya yang mukhlis dalam firman-Nya:

” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم… ” (آل عمران: الآية 191).

Artinya:

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring…" (Ali imran:191).

5) Jika engkau hendak berbicara,maka jauhilah sifat merasa kagum dengan diri sendiri, sok fasih dan terlalu memaksakan diri dalam bertutur kata,sebab ini merupakan sifat yang sangat dibenci Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,dimana Beliau bersabda:

” وإن أبغضكم إليّ وأبعدكم مني مجلساً يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون “.

"sesungguhnya orang yang paling aku benci diantara kalian dan yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat : orang yang berlebihan dalam berbicara, sok fasih dengan ucapannya dan merasa ta'ajjub terhadap ucapannya."

(HR.Tirmidzi,Ibnu Hibban dan yang lainnya dari hadits Abu Tsa'labah Al-Khusyani radhiallahu anhu)

6) Jauhilah dari terlalu banyak tertawa,terlalu banyak berbicara dan berceloteh.jadikanlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, sebagai teladan bagimu,dimana beliau lebih banyak diam dan banyak berfikir.beliau Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, menjauhkan diri dari terlalu banyak tertawa dan menyibukkan diri dengannya.bahkan jadikanlah setiap apa yang engkau ucapkan itu adalah perkataan yang mengandung kebaikan, dan jika tidak,maka diam itu lebih utama bagimu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, bersabda:

” من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت “.

" Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam."

(muttafaq alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu)

8) jangan kalian memotong pembicaraan seseorang yang sedang berbicara atau membantahnya,atau meremehkan ucapannya. Bahkan jadilah pendengar yang baik dan itu lebih beradab bagimu,dan ketika harus membantahnya,maka jadikanlah bantahanmu dengan cara yang paling baik sebagai syi'ar kepribadianmu.

9) berhati-hatilah dari suka mengolok-olok terhadap cara berbicara orang lain,seperti orang yang terbata-bata dalam berbicara atau seseorang yang kesulitan berbicara.Alah Ta'ala berfirman:

” يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيراً منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيراً منهن ” (الحجرات: الآية 11).

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik."

(QS.Al-Hujurat:11)

10) jika engkau mendengarkan bacaan Alqur'an,maka berhentilah dari berbicara,apapun yang engkau bicarakan, karena itu merupakan adab terhadap kalamullah dan juga sesuai dengan perintah-Nya, didalam firman-Nya:

: ” وإذا قرىء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون ” (الأعراف: الآية 204).

Artinya: "dan apabila dibacakan Alqur'an,maka dengarkanlah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian diberi rahmat". Qs.al a'raf :204

11) bertakwalah kepada Allah wahai saudariku muslimah,bersihkanlah majelismu dari ghibah dan namimah (adu domba) sebagaimana yang Allah ‘azza wajalla perintahkan kepadamu untuk menjauhinya. bersemangatlah engkau untuk menjadikan didalam majelismu itu adalah perkataan-perkataan yang baik,dalam rangka menasehati,dan petunjuk kepada kebaikan. perkataan itu adalah sebuah perkara yang besar,berapa banyak dari perkataan seseorang yang dapat menyebabkan kemarahan dari Allah ‘azza wajalla dan menjatuhkan pelakunya kedalam jurang neraka.Didalam hadits Mu'adz radhiallahu anhu tatkala Beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam: apakah kami akan disiksa dengan apa yang kami ucapkan? Maka jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” ثكلتك أمك يا معاذ. وهل يكبّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائدُ ألسنتهم ” ( رواه الترمذي).

"engkau telah keliru wahai Mu'adz,tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka diatas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka."

(HR.Tirmidzi,An-Nasaai dan Ibnu Majah)

12- berhati-hatilah -semoga Allah menjagamu- dari menghadiri majelis yang buruk dan berbaur dengan para pelakunya,dan bersegeralah-semoga Allah menjagamu- menuju majelis yang penuh dengan keutamaan, kebaikan dan keberuntungan.

13- jika engkau duduk sendiri dalam suatu majelis, atau bersama dengan sebagian saudarimu,maka senantiasalah untuk berdzikir mengingat Allah ‘azza wajalla dalam setiap keadaanmu sehingga engkau kembali dalam keadaan mendapatkan kebaikan dan mendapatkan pahala.Allah ‘azza wajalla berfirman:

” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم “. (آل عمران: الآية 191)

Artinya: "(yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri,atau duduk,atau dalam keadaan berbaring" (QS..ali 'imran :191)

14- jika engkau hendak berdiri keluar dari majelis, maka ingatlah untuk selalu mengucapkan:

” سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك “.

"maha suci Engkau ya Allah dan bagimu segala pujian,aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu"

Sehingga diampuni bagimu segala kesalahanmu di dalam majelis tersebut.


Ditulis oleh: Haya Bintu Mubarak Al-Buraik

Dari kitab: mausu'ah al-mar'ah al-muslimah: 31-34

Alih bahasa : Ummu Aiman

(sumber http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=62:adab-adab-berbicara-bagi-wanita-muslimah&catid=3:muslimah&Itemid=53)

Makna Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah

Posted by ukhti nita 21.02, under | No comments

Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya, dan dia juga tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Nabi Shallallahu alaihi wasallam menegaskan, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga”. (HR. Al-Bukhari)
Oleh karena itu, berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yang mulia ini:
Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu: Kata (laa), kata (ilaha), kata (illa) dan kata (Allah). Adapun secara bahasa bisa kita uraikan sebagai berikut:
— Laa adalah nafiyah lil jins (meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab: “Laa rojula fid dari” (tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis sembahan yang haq dari siapa pun selain Allah Ta’ala.
— Ilah adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna maf’ul (obyek), sehingga makna ilah adalah ma`luh. Ma`luh sendiri maknanya adalah ma’bud (yang diibadahi), karena aliha (kata kerja dari aliha) maknanya adalah ‘abada .
— Illa (kecuali). Kata pengecualian yang bertugas untuk mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan oleh laa. Misalnya dalam contoh di atas: ‘Laa rajula fid dari illa Muhammad’, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satu pun jenis lelaki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid ini makna maknanya adalah: Hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya.
— Lafazh ‘Allah’ berasal dari kata الإله Kemudian hamzahnya dihilangkan untuk mempermudah membacanya, lalu huruf lam yang pertama diidhgamkan pada lam yang kedua sehingga menjadi satu lam yang ditasydid, lalu lam yang kedua dibaca tebal. Ini adalah pendapat Al-Kisa`i, Al-Farra` dan juga pendapat As-Sibawaih.
Adapun maknanya, maka Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata dalam Madarij As-Salikin (1/18): “Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”.

Kemudian termasuk perkara yang penting diketahui dalam masalah ini adalah bahwa kata Laa membutuhkan isim dan khabar. Isimnya adalah kata ilaha, sedangkan khabarnya, maka di sinilah letak perselisihan manusia dalam penentuannya. Yang dipilih oleh seluruh ulama salaf adalah bahwa khabarnya dihilangkan. Karenanya kita terlebih dahulu harus menentukan khabarnya agar maknanya bisa dipahami dengan benar. Dan para ulama salaf bersepakat bahwa yang dihilangkan itu adalah kata haqqun atau bihaqqin (yang berhak disembah), dengan dalil firman Allah Ta’ala dalam surah Luqman ayat 30, “Yang demikian itu karena Allahlah yang hak (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Maka dari seluruh uraian di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa makna ‘laa ilaaha illallah’ adalah ‘laa ma’buda bihaqqin/haqqun illallah’ (tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah). Al-Wazir Abul Muzhoffar berkata dalam Al-Ifshoh, “Lafazh “Allah” sesudah “illa” menunjukkan bahwasanya penyembahan wajib (diperuntukkan) hanya kepada-Nya, maka tidak ada (seorang pun) selain-Nya yang berhak mendapatkannya”. Dan beliau juga berkata, “Dan termasuk faedah dari hal ini adalah hendaknya kamu mengetahui bahwa kalimat ini mencakup kufur kepada thaghut (semua yang disembah selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah. Maka tatkala engkau menafikan penyembahan dan menetapkan kewajiban penyembahan itu hanya kepada Allah, maka berarti kamu telah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah”.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung dua rukun asasi yang harus terpenuhi sebagai syarat diterimanya syahadat seorang muslim:
Pertama: An-nafyu (peniadaan) yang terkandung dalam kalimat ‘laa ilaaha’. Yaitu menafikan, menolak dan meniadakan seluruh sembahan yang haq selain Allah, apapun jenis dan bentuknya, baik yang masih hidup apalagi yang sudah mati, baik dari kalangan malaikat yang terdekat dengan Allah maupun Rasul yang terutus, terlebih lagi makhluk yang derajatnya di bawah keduanya.
Kedua: Al-itsbat (penetapan) yang terkandung dalam kalimat ‘Illallah’. Yaitu menetapkan seluruh ibadah hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Baik yang zhahir seperti sholat, zakat, haji, menyembelih dan lain-lain maupun yang batin seperti tawakkal, harapan, ketakutan, kecintaan dan lain-lain. Baik berupa ucapan seperti dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa dan sebagainya maupun perbuatan seperti ruku dan sujud sewaktu sholat, tawaf dan sa`i ketika haji dan lain-lain.
Maka syahadat seseorang belumlah benar jika salah satu dari dua rukun itu atau kedua-duanya tidak terlaksana. Misalnya ada orang yang hanya meyakini Allah itu berhak disembah (hanya menetapkan) tetapi juga menyembah yang lain atau tidak mengingkari penyembahan selain Allah (tidak menafikan). Berikut penyebutan beberapa ayat Al-Qur`an yang menerangkan dua rukun laa ilaha illallah ini, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (QS. An-Nisa`: 36)

Makna inilah yang dipahami oleh para sahabat dan para ulama setelah mereka sampai akhir zaman. Bahkan makna inilah yang dipahami oleh kaum musyrikin Quraisy semacam Abu Jahl, Abu Lahab dan selainnya. Sebagaimana yang diungkap oleh Allah Ta’ala pencipta mereka, “Sesungguhnya mereka apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” maka mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami hanya karena seorang penyair gila?”. (QS. Ash-Shoffat : 35-36)
Mereka juga berkata, “Mengapa ia menjadikan sembahan-sembahan itu sembahan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. (QS. Shod : 5)
Maka lihatlah -semoga Allah merahmatimu- bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak seruan tersebut. Mereka menolak bukan karena jahil dan bodoh tentangnya, akan tetapi justru karena mereka sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah Ta’ala. Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim, akan tetapi Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa Ilaha illallah daripada dirinya. Wallahul musta’an.

{Lihat : Fathul Majid hal. 52-54 dan Kifayatul Mustazid bisyarhi Kitabit Tauhid Bab. Tafsirut Tauhid karya Syaikh Shaleh Alu Asy-Syaikh}

Rukun Syahadat Muhammad Rasulullah

Posted by ukhti nita 21.00, under | No comments

Sebagai kelanjutan dan pembahasan makna dari syahadat ‘Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya’, di sini kita akan mengenal apa saja perkara yang menjadi rukun atau keharusan dari syahadat kedua ini. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dalam Tsalatsatul Ushul menyebutkan ada empat perkara yang merupakan rukun dari syahadat Muhammad Rasulullah, berikut uraiannya secara ringkas:

1. Menaati semua yang beliau perintahkan.
Allah Azza wa Jalla telah menetapkan wajibnya taat kepada Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- di dalam Al-Qur’an dalam banyak ayat dan juga dalam sunnah Rasul-Nya. Bahkan Allah menggandengkan ketaatan kepada-Nya dengan ketaatan kepada Rasul-Nya di dalam banyak ayat, di antaranya adalah dalam surah Al-Anfal ayat 1, “Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman”. Juga di dalam surah Al-Anfal ayat 20, “Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berpaling daripada-Nya, sedang kalian mendengar (perintah-perintah-Nya)”.
Karenanya barangsiapa yang taat kepada Rasulullah berarti dia telah taat kepada Allah, dan dia pantas untuk mendapatkan keutamaan berupa surga. Tapi barangsiapa yang bermaksiat kepada Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- maka sesungguhnya dia telah bermaksiat kepada Allah, dan tempatnya adalah neraka. Allah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa` ayat 13-14, “Siapa yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang sangat besar”.“Siapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan melampaui batasan-batasan-Nya, maka allah akan memasukkannya kedalam neraka, kekal didalamnya dan baginya adzab yang menghinakan”.
Dalam hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- bersabda, “Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau, para sahabat bertanya : “wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau ?” Rasulullah menjawab : “siapa yang ta’at kepadaku maka dia masuk surga, siapa yang maksiat kepadaku, maka sesungguhnya dia tidak mau”.
Dan dalam hadits Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari disebutkan, “Siapa yang mentaati Muhammad shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka dia telah mentaati Allah dan siapa yang maksiat kepada Muhammad shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam maka sesungguhnya dia telah maksiat kepada Allah”.

2. Membenarkan semua perkara yang beliau kabarkan.
Sebab sesungguhnya apa yang beliau bawa semuanya adalah kebenaran, karena merupakan wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surah An-Najm ayat 3-4, “Dan dia tidak berbicara dari hawa nafsunya, kecuali itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”.
Juga firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 33, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.
Dan para Ulama telah bersepakat bahwa para rasul seluruhnya ma’shum terjaga dari dosa-dosa besar, dan termasuk di dalamnya berkata dusta. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata dalam A-Aqidah Al-Wasithiah, “Kemudian rasul-rasul yang benar dan dibenarkan”.
Karenanya apa saja yang beliau kabarkan berupa kejadian yang terjadi di masa lampau pada umat-umat terdahulu atau kejadian yang akan terjadi berupa tanda-tanda hari kiamat, keadaan di alam barzakh sampai yang terjadi setelah hari kiamat, semuanya wajib kitab imani dan benarkan, selama hadits tersebut shahih periwayatannya dari beliau, walaupun beberapa di antara hadits-hadits tersebut ada yang lahiriahnya bertentangan dengan akal dan teori sebagian orang.

3. Menjauhi semua beliau larang dan beliau peringatkan.
Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Hasyr ayat 7, “Dan apa yang Rasululah datangkan kepada kalian maka ambillah dan apa yang dilarang kepada kalian darinya maka jauhilah dan bertaqwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya”.
Juga sabda Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam- sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim, “Dan jika saya melarang dari kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan jika saya perintahkan kalian dan sesuatum maka datangkanlah sesuai kemampuan kalian”.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ary yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya perumpamaan aku dan perumpumaan apa yang Allah mengutus aku dengannya seperti seseorang yang mendatangi suatu kaum, kemudian berkata :”wahai kaumku sesungguhnya saya melihat pasukan dengan kedua mataku dan sesungguhnya saya adalah an-nadzir al-’uryan maka sekelompok dari kaumnya menta’atinya maka mereka bergegas berjalan dimalam hari dengan kehati-hatian maka mereka selamat dan sekelompok dari mereka mendustakannya, maka mereka tetap ditempatnya, maka pasukan itu menyerangnya diwaktu subuh, maka menghancurkannya dan membinasakannya, maka yang demikian itu perumpamaan orang yang menta’atiku dan mengikuti apa yang aku datangkan dengannya, dan perumpamaan orang yang maksiat kepadaku dan mendustakan apa yang aku datangkan dengannya dari kebenaran”.
An-nadzir al-’uryan adalah perumpamaan yang dipakai oleh orang-orang Arab untuk menunjukkan benarnya yang ia sampaikan.

4. Tidak menyembah Allah Azza wa Jalla kecuali dengan apa yang beliau syari’atkan.
Allah Ta’ala telah menciptakan kita dan memberikan rezeki kepada kita, lalu Dia tidak membiarkan kita tercipta begitu saja. Akan tetapi Allah mengutus seorang rasul kepada kita untuk menerangkan bagaimana setiap hamba menyembah Pencipta-Nya. Karenanya Allah tidak boleh disembah dengan bid’ah, tidak pula dengan hawa nafsu, adat istiadat, kebiasaan, mimpi-mimpi, perasaan atau anggapan-anggapan yang ia pandang baik. Karena sesungguhnya asal dari ibadah itu adalah syari’at, sehingga dia nanti dikatakan ibadah tatkala sesuatu itu disyari’atkan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 110, “Maka siapa yang berharap untuk bertemu dengan Tuhannya maka hendaklah ia beramal yang shaleh”.
Para ulama menafsirkan bahwa amal yang shaleh di sini adalah amalan yang sesuai dengan syari’at Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku cukupkan pada kalian nikmatku dan Aku ridha Islam sebagai Agama kalian”.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya (2/13), “Ini adalah nikmat terbesar di antara seluruh nikmat Allah Ta’ala atas ummat ini, yaitu Allah Ta’ala telah menyempurnakan buat mereka agama mereka. Sehingga mereka tidak membutuhkan agama selainnya dan tidak pula membutuhkan Nabi selain Nabi mereka -shalawat dan salam Allah atas beliau-. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menjadikan beliau sebagai penutup para nabi, dan mengutus beliau kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal kecuali sesuatu yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali sesuatu yang beliau haramkan, dan tidak ada agama kecuali sesuatu yang beliau syari’atkan …”.

Juga dalam firman-Nya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu”. (QS. An-Nahl : 89)
As-Sa’di -rahimahullah- berkata -menafsirkan ayat di atas-, “(Sebagai penjelas) dalam masalah ushul (pokok) dan furu’ (cabang), dan dalam hukum-hukum kedua negeri (dunia dan akhirat), serta semua perkara yang dibutuhkan oleh hamba. Semuanya telah dijelaskan di dalamnya (Al-Qur`an) dengan penjelasan yang paling sempurna, dengan lafazh-lafazh yang jelas dan makna-makna yang agung”.
Karenanya barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama ini dan mensyariatkan suatu syariat yang tidak disyari’atkan oleh Allah, maka sesungguhnya dia telah menuduh Allah berdusta, sadar atau tidak.
Wallahu waliyyu At-Taufik.

Tags

Entri Populer

Blog Archive

Live Streaming